Tugas Sejarah Oceania : HUBUNGAN BILATERAL PAPUA NEW GUINEA DAN INDONESIA

Papua Nugini atau Papua Guinea Baru adalah sebuah negara yang terletak di bagian timur Pulau Papua dan berbatasan darat dengan Provinsi Papua (Indonesia) di sebelah barat. Benua Australia di sebelah selatan dan negara-negara Oseania berbatasan di sebelah selatan, timur, dan utara. Ibu kotanya, dan salah satu kota terbesarnya, adalah Port Moresby.

Manusia yang menetap di Papua Nugini diduga dimulai sejak 50.000 tahun yang lalu. Penduduk kuno ini mungkin berasal dari Asia Tenggara. Kemerdekaan tanpa peperangan dari Australia, kekuatan metropolitan de facto, muncul pada 16 September 1975, dan tetap bertalian dekat (Australia masih menjadi penyumbang bantuan dwipihak terbesar bagi Papua Nugini).

Papua sendiri menggambarkan sejarah masa lalu Indonesia, dimana tercatat bahwa selama abad ke-18 Masehi, para penguasa dari kerajaan Sriwijaya, yang berpusat di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Palembang, Sumatera Selatan, mengirimkan persembahan kepada kerajaan China. Didalam persembahan itu terdapat beberapa ekor burung Cendrawasih, yang dipercaya sebagai burung dari taman surga yang merupakan hewan asli dari Papua, yang pada waktu itu dikenal sebagai ‘Janggi’.

Dalam catatan yang tertulis didalam kitab Negara Kertagama, Papua juga termasuk kedalam wilayah kerajaan Majapahit (1293-1520). Selain tertulis dalam kitab yang merupakan himpunan sejarah yang dibuat oleh pemerintahan Kerajaan Majapahit tersebut, masuknya Papua kedalam wilayah kekuasaan Majapahit juga tercantum di dalam kitab Prapanca yang disusun pada tahun 1365.

Walaupun terdapat kontroversi seputar catatan sejarah tersebut, namun hal itu menegaskan bahwa Papua adalah sebagai bagian yang tidak terlepas dari jaringan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara yang berada dibawah kontrol kekuasaan kerajaan Majapahit.

Selama berabad-abad dalam paruh pertama millennium kedua, telah terjalin hubungan yang intensif antara Papua dengan pulau-pulau lainnya di Indonesia, dimana hubungan tersebut bukan hanya sekedar kontak perdagangan yang bersifat sporadis antara penduduk Papua dengan orang-orang yang berasal dari pulau-pulau terdekat.

Selama kurun waktu tersebut, orang-orang dari pulau terdekat yang kemudian datang dan menjadi bagian dari Indonesia yang modern, menyatukan berbagai keragaman yang terserak didalam kawasan Papua. Hal ini tentunya membutuhkan interaksi yang cukup intens dan waktu yang tidak sebentar agar para penduduk di Papua bisa belajar bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, apalagi mengingat keaneka-ragaman bahasa yang mereka miliki. Pada tahun 1963, dimana dari sekitar 700.000 populasi penduduk yang ada, 500.000 diantara mereka berbicara dalam 200 macam bahasa yang berbeda dan tidak difahami antara satu dengan yang lainnya.

Beragamnya bahasa diantara sedikitnya populasi penduduk tersebut diakibatkan karena terbentuknya kelompok-kelompok yang diisolasi oleh perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya selama berabad-abad yang disebabkan oleh kepadatan hutan dan juga jurang yang curam yang sulit untuk dilalui yang memisahkan mereka, oleh karena itu sekarang ini ada sebanyak 234 bahasa pengantar di Papua, dua dari bahasa kedua tanpa pembicara asli. Banyak dari bahasa ini hanya digunakan oleh 50 atau kurang pemakainya. Beberapa golongan kecil tentang ini sudah punah, seperti Tandia, yang hanya digunakan oleh dua pembicara dan Mapia yang hanya digunakan oleh satu pembicara.

Sekarang ini bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa pengantar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan merupakan bahasa didalam melakukan berbagai transaksi. Bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa melayu, versi pasar.

Di bidang kerjasama teknik, PNG selama ini telah memanfaatkan dan mengikuti secara aktif program-program “Kerjasama Teknik antara Negara Berkembang (KTNB)” Indonesia. Program-program KTNB yang diikuti adalah di bidang pertanian, perindustrian, perdagangan, pembangunan desa, pekerjaan umum dan koperasi. Pemerintah PNG menghargai bantuan yang telah diberikan Pemerintah Indonesia di bidang ini.  Untuk mengembangkan sumberdaya manusia di masa yang akan datang, Pemerintah PNG juga mengharapkan agar latihan yang diberikan selama ini terus dapat dilanjutkan terutama di bidang pertanian.

Pada dasarnya kerjasama bilateral di bidang pertanian antara  Indonesia – Papua New Guinea belum dilakukan secara optimal. Dasar hubungan bilateral RI-PNG mengacu pada Basic Arrangement  yang ditandatangani oleh kedua negara pada tahun 1990. Pertemuan bilateral I RI-PNG dilaksanakan pada tanggal 12-13 Februari 2001, di Jayapura, Irian Jaya, sebagai Review Basic Arrangement yang mengatur tentang masalah-masalah di perbatasan kedua negara tahun 1990, yang telah diperpanjang selama 1 (satu) tahun. Pada pertemuan tersebut telah dihasilkan kesepakatan-kesepakatan untuk perubahan/usul-usul kedua negara antara lain tentang pengaturan masalah-masalah pabean dan karantina.

Pada tanggal 28 – 30 Oktober 2003 telah dilaksanakan Sidang Perundingan Joint Border Committee (JBC) RI – PNG ke-22 di Madang, Papua New Guinea.  Hasil dari sidang tersebut yang berkaitan dengan bidang pertanian adalah :

a. Kedua belah pihak sepakat akan mebuka Pos Lintas Batas, apabila dimungkinkan akan dibuka pada bulan Juni 2004.  Hal ini didukung pihak PNG karena waktu pembukaan pos perbatasan pada bulan Juni 2004 bersamaan dengan waktu pelaksanaan Launching Cross-Border Vehicle Movements Arrangements.

b. Telah ditandatangani MoU on Collaborative Plant and Animal Health and Quarantine Activities between PNG and Indonesia

Pengiriman tenaga ahli pertanian Indonesia, melalui kerjasama Tripartite Indonesia – PNG – Jepang, pada tanggal 27 Oktober 2003 – 24 Januari 2004 telah dikirimkan expert dari Indonesia dibidang Rice Cultivation untuk kegiatan Promotion of Smallholder Rice Production Development, dan telah dilaksanakan dengan baik, dan untuk saat ini telah dilakukan perpanjangan selama 1 tahun. 

Pada tanggal 1 – 9 Maret 2004 telah diadakan kunjungan 4 (empat) orang pejabat Deptan PNG dengan dikoordinir oleh JICA yang akan mempelajari  bidang Rice Farmers, Group and Activities dalam rangka kerjasama teknik dengan Pemerintah Jepang (JICA).   

Pada tanggal 24 – 26 Juni 2004 telah dilaksanakan Informal Bilateral Meeting RI – PNG di Jayapura.  DELRI dipimpin oleh Kepala Badan Karantina.  Agenda yang dibahas adalah  (1) Agribusiness and Trade Consultation dan (2) Sanitary and Phytosanitary Consultation. 

Pada tanggal 6 – 13 Desember 2004 telah berkunjung 2 (dua) orang pejabat  Deptan PNG dan 2 (dua) orang petani PNG dan JICA bertindak sebagai fasilitator bermaksud untuk mempelajari Rice Farmers, Group and Activities terutama untuk dataran tinggi.

LAWATAN Presiden SBY ke Australia, 9 -11 Maret 2010 memang penting. Tetapi perjalanan selanjutnya ke Port Moresby, ibukota Papua Nugini, jauh lebih penting. Mengapa? Sampai kapanpun Australia akan tetap bergantung kepada Indonesia. Jika Indonesia ‘kacau’, maka ‘kekacauan’ itu akan mempengaruhi kehidupan nyaman bangsa Australia. 
Contohnya soal pendidikan. Saat ini jumlah pelajar dan mahasiswa Indonesia di berbagai pusat pendidikan di Australia cukup signifikan. Mereka mengeluarkan biaya cukup besar, yang kemudian masuk ke sejumlah rekening bank Australia sehingga ikut memperkuat ketahanan ekonomi negara itu. Jadi andaikata Indonesia mengeluarkan larangan belajar di Australia, dapat dipastikan, Australia yang akan menderita.

Kalau saja kita mau mengeluarkan semacam education warning bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia yang ingin ke Australia, industri pendidikan negeri tetangga itu akan menderita. Sama halnya dengan Australia yang senang mengeluarkan travel warning bagi wisatawan yang ingin ke Indonesia. Singkatnya, jika kita (Indonesia) diam saja, maka mereka (Australia) justru akan merasa tidak nyaman. Australia tidak mungkin meminggirkan Indonesia dari prioritas pergaulan.
Tentang pentingnya Papua Nugini (PNG), cukup banyak alasan. Tetapi yang paling rasional adalah PNG merupakan tetangga yang jauh lebih dekat dengan Indonesia dibanding Australia. Dengan PNG, wilayah kita hanya dipisahkan daratan. Lain halnya dengan Australia. Kita harus menyeberangi laut. 

Sementara alasan lainnya lebih bersifat politis dan strategis. Bagi Indonesia, PNG dapat menjadi mitra dalam memperkuat perekat bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Yang diperlukan dari PNG, negara tetangga ini tidak akan menjadi pendukung bagi gerakan separatis OPM, baik secara diam-diam apalagi secara terbuka. Jika kita boleh jujur, salah satu ancaman paling serius dari keutuhan NKRI, berada pada nasib dan masa depan Papua. Provinsi Papua hingga kini belum dapat dikatakan daerah aman, karena masih hidup aspirasi rakyat Papua yang ingin mendirikan negara merdeka, terpisah dari NKRI. Sudah bukan rahasia lagi bahwa salah satu alasan munculnya keinginan berdirinya negara merdeka di provinsi paling Timur itu karena rakyat Papua yang masih serumpun terinspirasi oleh sebuah kenyataan di PNG. Jika di Papua Timur ada rumpun Melanesia yang bisa punya kewarganegaraan, lantas mengapa Melanesia yang sama di Papua bagian Barat – wilayah Indonesia, tidak bisa terwujud?

Jika putera PNG bisa menjadi perdana menteri, mengapa orang Papua tidak bisa menjadi presiden di bumi papua? Mengapa hanya orang Jawa – rumpun Asia yang bisa menjadi presiden dari rumpun Melanesia? Aspirasi ini, oleh masyarakat Papua, memang tidak selalu diungkapkan secara eksplisit. Tetapi secara implisit yang menjadi inti dari munculnya OPM di Papua justru hal-hal yang tidak diucapkan. Keamanan di Papua saat ini tidak bisa dikatakan kondusif. Eksistensi OPM tidak bisa dianggap sudah tak ada lagi. Tokoh atau pemimpin OPM boleh saja dieksekusi oleh eksekutor Indonesia. Tetapi ini tidak berarti apsirasi orang Papua untuk merdeka lantas ikut mati.

Sejarah peradaban sudah membuktikan bahwa di hampir semua belahan dunia selalu ada kelompok yang ingin memisahkan diri dari sebuah negara yang sudah merdeka. Siapa yang menyangka, Yugoslavia yang konsep negara kesatuannya mirip Indonesia, akhirnya tercerai-berai. Aspirasi menjadi orang merdeka, memiliki negara merdeka, hingga kapanpun tak akan hilang. Kita patut bersyukur karena sejauh ini tidak ada tanda-tanda bahwa pemerintah atau pegiat politik di PNG memberikan dukungan bagi berdirinya sebuah negara merdeka, negara Papua yang terpisah dari NKRI. Tetapi ini tidak berarti peluang munculnya dukungan dari bagian timur Papua itu lantas bisa kita pastikan tak akan pernah ada. Sebuah era, setiap zaman, punya kisahnya dan generasi berbeda. Bagaimana wujud dan visi generasi berikutnya di Papua, kurang lebih juga bisa demikian. Jadi salah satu strategi mencegah terpisahnya Papua dari NKRI adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat dan pemerintah PNG. Tentang hidup bertetangga yang baik, sikap Indonesia yang tidak imperialis dan ekspansionis, serta menghormati pluralisme. NKRI dari Sabang sampai Marauke, bukan sekadar jargon.

Mudah-mudahan kunjungan seorang Presiden RI ke PNG dapat memperkokoh hubungan kedua negara dan yang lebih penting lagi jaminan dari PNG bahwa cita-cita OPM tidak mereka dukung. Masalah jaminan, sebetulnya bukan hal yang sulit untuk diperoleh SBY dari pemerintah PNG. Sebab dari waktu ke waktu PNG selalu memperlihatkan keinginan kuat menjadi sahabat baik Indonesia. Keinginan ini ditunjukkannya melalui lamarannya untuk menjadi anggota ASEAN. Namun keinginan PNG itu tidak pernah terpenuhi. Dan PNG pun tak merasa tersinggung dengan pengabaian itu. Semoga kunjungan presiden RI kali ini berhasil membangun poros baru yakni jembatan yang menghubungkan antara rumpun Melanesia dan rumpun Asia

 

DAFTAR PUSTAKA

Gelineau, Kristen (2009-03-26). “Spiders and frogs identified among 50 new species”. The Independent. http://www.independent.co.uk/news/science/spiders-and-frogs-identified-among-50-new-species-1654296.html. Diakses pada 28 April 2012. 

Lynne Armitage. “Customary Land Tenure in Papua New Guinea: Status and Prospects (PDF).

Queensland University of Technology.

http://dlc.dlib.indiana.edu/archive/00001043/00/armitage.pdf. Diakses pada 28 april 2012.

Salak, Kira. “Nonfiction book “Four Corners: A Journey into the Heart of Papua New Guinea” PDF

PAPUABARATnews.com Portal Berita Tanah-airku Papua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s